Suatu sore sepulang kerja, di saat menunggu angkutan kota jurusan rumahku, tak sengaja mataku melihat seorang pria berdiri di seberang jalan. Sangat familiar, tapi aku lupa siapa orang itu. Pria tersebut sempat menatapku dan tersenyum. Belum sempat aku membalasnya, angkutan umum yang aku tunggu sudah datang. Aku langsung menaiki dan berlalu meninggalkan pria tersebut yang masih berdiri di tempatnya.
Keesokan hari di tempat yang sama, waktu yang sama dengan posisi yang sama. Aku melihat pria itu lagi berdiri di seberang jalan. Aku menunggu dia juga melihatku dengan harapan aku dapat membalas senyumannya kemarin. Pria itu melihatku dan langsung menghampiriku dari seberang jalan. “Hai, kamu Naura kan?” sapanya. Aku tersenyum sambil mengiyakan. “Kamu kenal sama aku?” tanyaku. “Kamu lupa ya? Kita dulu pernah satu sekolah di SMA Harapan. Kalau ngga salah, kamu dulu di IPA 5 kan? Aku di IPS 2” ujarnya. Aku mencoba mengingat kembali. “Oh iya, kamu Keenan ya? Temannya Wahyu yang sekelas dengaku” kataku seraya mencoba untuk menahan diri untuk tidak berteriak girang bertemu dengan pria yang pernah menjadi idolaku pada saat SMA dulu. Kami sempat mengobrol dan bertukar nomor handphone sebelum akhirnya angkutan umum yang biasa aku tumpangi datang. “Nanti aku telepon ya” ucap Keenan dan aku balas dengan anggukan dan senyuman sembari menaiki angkutan umum yang menungguku. Sungguh jantungku berdebar-debar, Keenan anak IPS 2 yang banyak fansnya ternyata masih mengenalku. Padahal aku bukan tergolong anak-anak yang popular di sekolah. Di sepanjang jalan menuju rumah, aku senyum-senyum sendiri, hingga tak sadar dua anak berseragam SMP saling berbisik melihatku. Aku langsung tersadar dan langsung mengambil handphone untuk menyembunyikan rasa malu-ku.
Di dalam kamar, aku sedari tadi melirik handphone yang aku letakkan di meja kecil samping tempat tidurku. Berharap Keenan akan segera meneleponku seperti yang tadi dia sempat ucapkan saat aku hendak menaiki angkutan umum. Tak lama terdengar suara handphone ku berbunyi, aku langsung meraihnya dan ku lihat nama Keenan di layar handphone yang aku pegang. “Hallo!” sapaku berusaha tenang dan dibalas suara pria yang sedari tadi aku tunggu. Kami mengenang masa lalu semasa di SMA dulu dan sesekali kami tertawa hingga tak terasa sudah lebih dari satu jam kami mengobrol. Akhirnya kami sudahi obrolan kami dan Keenan berjanji akan menungguku sepulang aku kerja di tempat awal kami bertemu. Duh, tak sabar rasanya menunggu malam segera berlalu.
Keesokan hari di tempat biasa aku menunggu angkutan umum sepulang kerja, Keenan sudah menunggu di atas motor sportnya. Ya Tuhan, jantungku berdebar sangat kencang, Keenan benar-benar menepati janjinya menungguku sepulang kantor. Dia melihatku dan langsung turun dari motornya sembari tersenyum manis yang mebuat jantungku semakin berdegup kencang, “Hai, udah lama ya nunggunya?” tanyaku. “Buat kamu, nunggu selama apapun aku jalani kok” jawab Keenan sembari tersenyum. Byarrrrr, berasa mendengar kembang api meletus di angkasa, mukaku terasa hangat memerah. Buru-buru aku ajak dia pergi agar tidak mengetahui bagaimana malunya aku mendengar ucapannya. Dia memberikan helm yang sedari tadi dia pegang sembari tersenyum menatap wajahku yang memerah. “Kenapa wajahmu? Kok jadi merah gitu?” ledeknya, aku hanya bisa diam dan meminta dia menyalakan motornya. “Kita ngga langsung ke rumahmu dulu ya, kita ke cafe temanku yang di ujung jalan sana, ada yang pengen aku omongin ke kamu” ujarnya, aku hanya mengiyakan sambil duduk di belakangnya. Sepanjang jalan aku hanya diam dan berfikirkan apa yang hendak dia sampaikan nanti. “Kamu kenapa? Kok diam gitu?” tanya Keenan memecahkan keheningan kami sepanjang jalan. “Ngga kenapa-kenapa kok. Lagi pengen diem aja” ujarku.
Tak lama sampailah kami di cafe temannya di ujung jalan dan Keenan langsung memarkirkan motornya di depan cafe tersebut. Aku turun dari motornya sembari menyerahkan helm dan langsung aku memalingkan wajah untuk menyembunyikan wajahku yang masih memerah. Keenan turun dari motor dan mengajakku masuk ke dalam cafe. Suasana cafe cukup ramai sore ini dan kami disambut pegawai cafe menanyakan di meja mana kami akan duduk, mata Keenan mencari-cari meja yang nyaman posisinya untuk kami. Akhirnya dia memutuskan dan menunjuk meja paling ujung sedikit menjauh dari keramaian pengunjung cafe. Pegawai cafe langsung mengikuti kami dari belakang sampai di meja yang Keenan inginkan. Pegawai cafe itu langsung menyodorkan menu agar kami dapat memesan minuman dan makanan apa yang kami kehendaki. Setelah membaca menu kami sepakat memesan minuman saja. Jus alpukat kesukaanku dan jus melon pilihan Keenan. Pegawai cafe akhirnya meninggalkan kami yang merasa grogi satu sama lain. Kami sempat terdiam sesaat hingga Keenan mencoba membuka pembicaraan. “Hmm gimana kerjaanmu hari ini?” ucap Keenan. “Baik-baik aja” ujarku. Tampak Keenan menghela nafas panjang-panjang, “Naura, mmm… kamu udah punya pacar?”. Pertanyaan yang membuat aku benar-benar kaget. “Belum. Kenapa gitu?” tanyaku. “Oh syukurlah” ucap Keenan. Jantung ini semakin berdegup kencang, duh apalagi yang hendak dia katakan, ucapku dalam hati. “Naura, sebenernya aku tuh suka kamu, mau ga kamu jadi pacarku?” ucap Keenan. Aku terdiam sejenak mencoba menenangkan diri, “Kamu becanda ya Nan?” tanyaku. “Ga lah, masa aku becanda. Aku serius kok. Aku tuh sebenernya udah suka kamu semenjak kita SMA tapi aku saat itu belum ada keberanian untuk ngomong ke kamu dan kita lama ga ketemu setelah lepas SMA. Baru ketemu saat ngeliat kamu sedang nunggu angkutan umum waktu itu” ujar Keenan. Aku cuma bisa terdiam dan menatap wajahnya yang mencoba meyakinkan aku akan kesungguhannya. “Sekarang ini aku baru bisa ngungkapin perasaan aku ke kamu. Aku harap kamu mau jadi pacarku” lanjut Keenan. Belum lagi Keenan menyelesaikan ucapannya, pegawai cafe datang dengan membawa pesanan kami dan langsung meletakkan pesanan kami di atas meja serta meninggalkan kami yang sedari tadi terdiam menunggu pegawai cafe selesai melayani kami. Keenan menyuruhku untuk meminum jus yang aku pesan tadi, seleraku untuk meminum jus tersebut seperti hilang seketika. Aku bingung harus menjawab apa walau sesungguhnya aku pun suka Keenan sejak lama. “Naura, jawab dong pertanyaanku?” tanya Keenan sembari menatap wajahku dalam-dalam. “Keenan bukannya dulu kamu banyak teman cewek yang cantik-cantik yang selalu dekat denganmu? Kenapa kamu malah memilih aku?” jawabku balik bertanya. “Mereka cuma sekedar teman kok Naura, ngga lebih. Aku dari dulu sukanya sama kamu karena kamu beda dari yang lain. Kamu istimewa bagiku. Jadi mau kan kamu jadi pacarku?” ucap Keenan sembari meraih jemariku dan menggengam erat. “Keenan” aku terdiam sejenak “Sebenernya aku dari dulu juga suka sama kamu tapi karena kamu selalu dikelilingi teman-teman kamu yang cantik-cantik itu, aku pikir salah satu dari mereka itu pacar kamu” ujarku. “Jadi… kamu juga suka aku? Kalo gitu kamu mau kan jadi pacarku?” tanya Keenan kembali. Aku menatapnya sejenak dan akhirnya aku mengangguk, “Iya, aku mau jadi pacarmu” jawabku. Keenan langsung berdiri mendekatiku dan langsung memelukku sembari tersenyum dan membisikkan “Terima kasih Naura karena kamu sudah mau untuk mengisi hatiku dan hari-hariku nanti”.
Sang surya mulai beranjak ke peraduannya dan senja yang merona menjadi saksi kami berdua yang mulai merajut asa dan cinta. Kami merasa bahagia karena penantian kami akhirnya mewujudkan asa yang sudah lama kami pendam. Semoga cinta tulus kami akan membawa kami kepada kebahagiaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar