
Malam itu, tak biasanya jalanan sepanjang kantor dan rumahku begitu sepi. Tak ada satu kendaraan atau seorang pun yang lalu lalang di jalan itu. Jalan yang ku lalui ini biasanya ramai walau malam sudah datang, tapi kenapa malam ini sangat berbeda. Sedari tadi ada perasaan cemas dan takut lewat jalan ini, andai saja tadi tidak ada rapat mendadak mungkin saat ini aku sudah rebahan di atas kasur empukku.
Tak lama aku melihat sorot lampu sebuah mobil di kejauhan. Aku bersyukur ternyata masih ada angkutan umum yang lewat jalan ini. Aku mencoba untuk menghentikan angkutan umum itu dan angkutan umum itu berhenti di depanku. Aku langsung pijakkan kakiku masuk ke dalam mobil itu, sempat aku melirik ada beberapa penumpang duduk di dalam angkutan yang cukup terang itu. Aku tak sendiri, pikirku.
Penumpang di depanku seorang wanita berambut panjang tergerai begitu saja, wajahnya cantik tapi terlihat sangat pucat dan tanpa ekspresi. Dia menatapku dengan tatapan kosong, aku coba tersenyum tapi wanita itu tak bergeming. Aku coba melirik ke penumpang lainnya, mereka pun sama, duduk diam dengan wajah tanpa ekspresi dan tatapan kosongnya itu menatap ke luar jendela mobil. Aku hanya bisa terdiam dan sesekali melihat jam di pergelangan tanganku, sudah 30 menit tapi belum juga sampai, bathinku. Padahal jarak kantor dan rumahku hanya 15 menit bila menggunakan kendaraan umum. Mobil yang ku tumpangi itu berjalan lambat dan sepanjang jalan tidak ada lagi penumpang yang naik atau pun turun. Perasaan takutku mulai muncul saat tercium aroma wangi bunga kuburan. Ya Allah, apalagi ini, kenapa lambat sekali sih jalannya mobil ini, ucapku dalam hati. Bulu kudukku mulai meremang, ingin rasanya aku turun dari mobil yang kutumpangi ini, tapi rumahku masih jauh jaraknya. Dan aku hanya bisa terdiam serta berdoa dalam hati dengan ketakutan yang mulai menjadi.
Akhirnya sampailah aku di depan rumah, aku minta pak supir untuk menghentikan mobilnya. Setelah menyerahkan uang, aku langsung turun dan lari membuka pintu pagar yang tak terkunci tanpa melihat lagi ke belakang. Ketakutanku sudah di ujung rasanya, yang ada di fikiranku hanya satu, masuk ke dalam rumah. Sesampainya di dalam rumah aku langsung mencari mama, aku ceritakan semua kejadian yang aku alami. Mama tidak berkata apa-apa hanya sesekali dia mengucapkan kalimat istighfar. Selesai bercerita, mama menyuruhku mandi dan tidur.
Esok harinya, sesampai di kantor aku bercerita ke teman sebelah meja kerjaku. Ternyata temanku pun pernah mengalami hal yang sama dan di tempat serta waktu yang sama. Kata temanku, semalam itu malam Jumat Kliwon dan bukan aku atau dia saja yang pernah mengalaminya, banyak yang pernah mengalami hal yang sama. Karena beredar cerita di luar sana setiap malam Jumat Kliwon pasti mobil itu akan muncul dan akan mencari penumpang manusia. Tidak tahu asal muasalnya, tetapi temanku bilang kalau mobil yang semalam aku tumpangi itu adalah “Angkot Hantu”. Seketika aku merinding, aku kapok pulang malam lagi. Kalau pun harus pulang malam, aku akan meminta temanku yang memiliki kendaraan untuk mengantarku sampai rumah. Aku tidak ingin mengalami lagi kejadian malam itu. Cukup sekali saja. Tidak mau lagi, bathinku.